Paduan Suara SMAK St Louis 1 Surabaya Berjaya di Malaysia Tampil Sempurna, Juri Beri Nilai Tertinggi
Satu lagi prestasi diukir siswa-siswi SMAK St Louis 1 Surabaya. Pekan lalu, mereka dinobatkan sebagai pemenang lomba paduan suara internasional di Penang, Malaysia. Mereka menyisihkan peserta lain dari Filipina, Malaysia, dan wakil Indonesia lainnya. KHAFIDLUL ULUM --- Jawa Pos - Metropolis [ Minggu, 12 Juli 2009 ] Kami para siswa St Louis siap berbakti, bekerja bersama-sama untuk nusa dan bangsa Kami para siswa St Louis serentak bersatu hati mengejar yang benar, mengabdi yang suci untuk tanah air kami. Lagu Mars St Louis itu dinyanyikan dengan apik oleh sekelompok siswa yang tergabung dalam Paduan Suara (PS) SMAK St Louis 1 di aula sekolah tersebut kemarin. Tepuk tangan pun mengiringi penampilan mereka yang kompak, padu, dan merdu. Itulah unjuk gigi PS SMAK St Louis 1 di depan ratusan siswa baru sekolah tersebut. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka layak menjadi kelompok siswa yang membanggakan bagi sekolah. Apalagi, mereka baru saja menggondol gold medal dalam A Voyage of Songs International Choral Festival di Penang, Malaysia, 3-8 Juli lalu. Lomba paduan suara tersebut diikuti 35 kelompok dari delapan negara. Yakni, Singapura, Taiwan, Tiongkok, Filipina, Australia, Inggris, Indonesia, dan Malaysia sebagai tuan rumah. Lomba dibagi dalam tiga kategori: anak-anak, remaja, dan dewasa. PS SMAK St Louis 1 tampil di kategori remaja bersama satu kelompok dari Filipina dan Malaysia serta tiga kelompok lain dari Indonesia. Selain PS SMAK St Louis 1, Surabaya juga diwakili SMA Negeri 5 dan SMP Negeri 6. Kedua sekolah terakhir itu meraih silver medal. Satu lagi wakil Indonesia dari Jakarta. Menurut Pembina PS SMAK St Louis 1 FX Arie Soeprapto, untuk meraih gold medal, peserta harus meraih nilai minimal 81. Sedangkan nilai 60-80 memperoleh silver medal dan peserta dengan nilai di bawah 60 mendapatkan bronze medal. ''Sekolah kami meraih nilai 86,23. Jadi, berhak mendapat medali emas,'' jelas Arie. ''Untuk kategori remaja, nilai kami tertinggi. Filipina dan Malaysia di bawah tim kami,'' imbuh pria 63 tahun tersebut. PS SMAK St Louis 1 tampil pada hari ketiga (5/7). Mereka membawakan tiga lagu andalan. Yakni, Sure on This Shining Night karya penyair Amerika James Agee, Potret karya Hesty Moeradi, dan Under The Sea karya Kyrby Shaw. Menurut Arie, di antara ketiga nomor itu, lagu Under the Sea mendongkrak perolehan nilai PS SMAK St Louis 1. Sebab, para siswa sekolah tersebut mampu membawakan lagu itu dengan ekspresi unik dan lucu. ''Anak-anak mampu menyanyikannya dengan sempurna. Juri pun memberi nilai 86, nilai tertinggi di kategori remaja,'' tutur Arie yang membina PS SMAK St Louis 1 sejak 1984 itu. Sebelum berlaga dalam lomba yang diadakan Victoria Choral Academy yang didukung Departemen of Tourism Malaysia tersebut, tim PS SMAK St Louis 1 yakin mampu berbicara banyak di even internasional. ''Kami kan pernah juara nasional, sehingga sudah saatnya kami meraih juara internasional,'' ungkapnya. Tahun lalu, anak asuh Arie tersebut memang menjadi kampiun dalam lomba PS tingkat nasional di Bandung. Prestasi itulah yang menjadi modal dan motivasi untuk maju di even internasional tersebut. PS SMAK St Louis 1 membutuhkan waktu sebulan untuk menyiapkan diri sebelum berlaga di Malaysia. Hampir setiap hari mereka berlatih. Dengan disiplin tinggi, para siswa berolah vokal selama empat jam sehari. Selain memantapkan suara masing-masing, mereka harus menguasai tiga lagu yang dibawakan di pentas. Berbagai pantangan pun harus mereka taati. Misalnya, soal makanan dan minuman. ''Sebenarnya tidak ada larangan. Mereka hanya harus tahu diri. Sebab, kalau suaranya sampai terganggu, kekompakan tim akan terpengaruh,'' paparnya. Arie memang berpengalaman dalam membina tim paduan suara. Dari situ, dia jadi tahu bahwa anggota paduan suara tidak perlu harus dipaksa. Sebab, pemaksaan akan berdampak pada psikologis mereka. ''Saya tidak mau mengekang anak-anak,'' tegasnya. Menurut dia, yang paling penting adalah menjaga kelompok agar tetap solid dan kompak. Karena itu, dia selalu menekankan tiga hal kepada anggota PS binaannya. Yaitu, disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan. Dalam paduan suara, rasa kebersamaan sangat penting karena mereka harus bernyanyi bersama di panggung. Bahkan, di luar panggung pun, mereka harus tetap kompak. Menurut Arie, paduan suara tersebut membutuhkan kesatuan hati dan perasaan setiap anggota. Jiwa mereka harus bersama, sehingga bisa menciptakan alunan suara yang merdu dan menyentuh kalbu. ''Harus ada kontak batin antaranggota. Sebab, yang kita sentuh adalah batin,'' ungkapnya. Dengan kebersamaan itu, tim paduan suara tersebut selalu solid dan kemampuan suara yang dihasilkan juga padu. Tak heran bila kemudian mereka sering diminta tampil dalam banyak acara. ''Bahkan, kami diminta tampil saat pelantikan Pakde Karwo (Gubernur Jatim Soekarwo, Red),'' ujar Arie. Keiikutsertaan PS SMAK St Louis 1 dalam lomba di Malaysia tersebut sempat nyaris batal. Sebab, mereka kekurangan dana. Dari anggaran Rp 200 juta yang dibutuhkan, sekolah hanya mampu menyubsidi Rp 40 juta. Mau tak mau, pengurus harus mencari Rp 160 juta tambahannya. Mereka pun bergerilya mencari dana ke berbagai pihak. Akhirnya, satu per satu jalan mereka temukan. Di antaranya, dari wali murid yang menyumbang Rp 75 juta, kemudian dari alumni dapat Rp 35 juta. Tapi, jumlah itu belum cukup. Lagi-lagi, para alumnus turun tangan dengan menggelar konser di UK Petra. Hasilnya, terkumpul Rp 50 juta. ''Untung, kepedulian wali murid dan alumni sangat tinggi. Kami sangat berterima kasih kepada mereka,'' papar alumnus SMAN 1 Madiun itu. Yang lebih hebat, para alumnus juga membantu teknis keberangkatan tim dari Surabaya itu. Mulai mencarikan bus dan hotel di Malaysia hingga mendaftarkan ke panitia. ''Kebersamaan mereka masih sangat tampak, walaupun mereka sudah lulus. Ini hasil didikan paduan suara yang mengajarkan kebersamaan dan kepedulian,'' tegas Arie. Manfaat kebersamaan itu juga dirasakan Ruth Zevani Tutuhatunewa, salah seorang anggota paduan suara. Kebersamaan itu, kata dia, sangat berpengaruh saat mereka mengikuti lomba. Timnya bisa tampil dengan sangat kompak. ''Kami jadi bisa betul-betul menjiwai saat tampil di atas panggung,'' jelas putri pasangan Adam Tutuhatunewa dan Eka Agustian Miranda itu. Siswa kelas XII tersebut mengaku sempat grogi menghadapi penonton yang begitu banyak. Tapi, begitu menyanyi bersama, perasaan grogi itu hilang. Dia jadi hanyut dalam irama lagu. ''Kami jadi menyatu bersama alunan lagu itu,'' uncap Ruth. Dia mengungkapkan, kekompakan tersebut sudah dipupuk saat berlatih. Mereka selalu mempunyai rasa kepedulian satu sama lain. Tidak hanya itu. Untuk menumbuhkan tanggung jawab di antara mereka, setiap anggota secara bergilir membawa makanan waktu latihan. ''Itu untuk menumbuhkan rasa kepedulian antaranggota,'' jelas perempuan berkulit sawo matang itu. Bukan hanya makanan yang mereka bawa, tapi juga permen capung dan pil dewa untuk menjadikan suara mereka bagus. ''Itu kan ramuan dari Tiongkok. Jadi, khasiatnya cespleng, makanya kita menang,'' ungkap gadis 17 tahun itu, kemudian tersenyum lebar. (*/ari)
|