|
Artikel
Psikologi
Sidang 'Sedeng' | Sidang 'Sedeng' |
|
|
|
| Written by Iggy Budiman | |||||||
| Wednesday, 13 August 2008 | |||||||
|
Sidang ‘Sedeng’ Oleh Audifax Research Director di SMART Human Re-Search & Psychological Development Saiki jaman edan, yen ora edan ora keduman. Demikian bunyi salah satu idiom Jawa. Barangkali idiom Jawa tentang kegilaan jaman itu paralel dengan gambaran posmodernisme tentang jaman silang-sengkarut tanda. Friedrich Nietzche, pembuka jalan bagi banyak pemikir posmodernisme, juga menggunakan sosok orang gila dalam aporianya. Kegilaan jugalah yang tampaknya tengah dinarasi-ulang oleh Ayu Utami dalam buku berjudul ’Sidang Susila – Naskah Komedi dan Catatan Perihal RUU Pornografi’. Kegilaan yang membuat perbedaan dimarjinalkan dan perempuan adalah salah satu dari perbedaan itu. Hélène Cixous, psikoanalis Perancis, pernah mengemukakan pemikiran agar perempuan menulis untuk mengekspresikan diri keluar dari konstitusi budaya yang menjebak dalam peran yang “membisukan” perempuan. Cixous mengatakan: “Tulislah dirimu sendiri. Tubuhmu harus bisa didengar”. Apa yang ditulis Ayu dalam ’Sidang Susila’ adalah upaya menulis tubuh perempuan agar bisa didengar. Tak bisa dipungkiri, dalam banyak aspeknya, RUU ini bisa ’membisukan’ tubuh perempuan yang ada dalam kultur di mana kita hidup saat ini. Kultur di mana kegilaan dan kewarasan tak bisa lagi dibedakan. Kultur di mana perbedaan ’mesti’ disamakan. Sebuah Pembacaan-Ulang Buku ini menarasikan pembacaan-ulang terhadap RUU Pornografi. Ketika kita menerima segala sesuatu secara taken-for-granted, seringkali hal-hal yang tersembunyi namun esensial justru terlewatkan. Di sinilah sebuah pembacaan-ulang diperlukan. Sebuah pembacaan terhadap realita yang plural tak bisa hanya sekali dan dari sudut pandang tunggal, melainkan harus terus-menerus dan memperhitungkan keragaman sudut pandang. Tanpa itu semua, pluralitas dan kebhinnekaan tak akan lebih dari sekedar karnaval hari Kartini atau tujuh belasan. Setelah menerbitkan novel ’Saman’ dan ’Larung’, kali ini Ayu menerbitkan naskah drama berikut beberapa eseinya yang menyoroti masalah RUU Pornografi. ’Sidang Susila’ adalah naskah drama pertama Ayu Utami. Naskah ini diselesaikan pada Maret 2006. Semula naskah ini ditujukan untuk dipentaskan oleh Butet Kartaredjasa. Namun, seiring waktu naskah ini kemudian dipentaskan oleh Teater Gandrik di Jakarta dan Yogyakarta pada bulan Februari dan Maret 2008. Di bulan Februari 2008, penerbit _sp@si & vhrbook menerbitkan naskah ini dalam bentuk buku. Apapun kualitas dari naskah drama ini, satu aspek yang barangkali esensial adalah langkah Ayu untuk mengangkat persoalan pluralitas ke dalam bentuk naskah drama yang juga dibukukan. Dalam ruang masyarakat yang kerap menempatkan perbedaan untuk mengekslusi individu dari ke-Kita-an, naskah drama ini jelas merupakan sebuah satire yang layak menjadi perenungan. Drama dan Realita Dalam naskah drama ini tokoh utamanya adalah terdakwa bernama Susila. Nama aslinya adalah Susilo Parno. Takut dikira menyindir, maka nama Jawa itu dirubah menjadi Susila Parna, seperti nama orang Sunda. Namun nama Sunda itu kalau dibaca dengan logat Jawa malah menjadi Susilo Porno. Susila adalah tipikal lelaki umur 40-an kelas bawah yang menjadi gemuk karena pola makan murah: gorengan, gorengan, gorengan. Tokoh kedua adalah Pak Hakim. Wajah dan perkataannya mirip salah satu raja dangdut. Ia tak terlalu peduli dengan nasib orang. Ia kerap terbayang-bayang pada bagian tubuh tertentu yang sensual, yang membuat ia menelan ludah gleg gleg. Tokoh ketiga adalah Bu Jaksa. Ia bisa berbicara dengan tempo dan intonasi yang berbeda-beda, yang barangkali menunjukkan bahwa ia, di luar pekerjaannya di pengadilan, adalah seorang penceramah ulung. Beginilah ritme bicara Bu Jaksa: mula-mual tenang bijak bestari seperti ibu pendakwah di televisi, lalu mulai berapi-api hingga menjerit-jerit seperti ibu pengkhotbah, juga di televisi. Tokoh keempat adalah Bu Pengacara. Cara bicaranya yang teatrikal dan olah vokalnya yang prima seolah menunjukkan bahwa ia juga seorang pemain drama yang handal. Ia tipikal seorang aktivis yang juga pemimpin teater yang keras kepala, berani melawan, pantang menyerah dan suka menang sendiri. Baginya, tak ada yang benar selain dirinya sendiri. Bahkan kesaksian terdakwa pun kerap ia bantah karena menurut dia salah Tokoh-tokoh pendukung lainnya adalah para Tukang Celetuk. Mereka diperankan oleh musisi atau penonton bayaran. Di antaranya ada Tukang Celetuk yang cenderung untuk selalu berbahasa Jawa. Itulah berbagai peran dalam naskah drama komedi ’Sidang Susila’. Membacanya seakan melihat karikatur kehidupan masyarakat di mana kita ada di dalamnya. Ada perasaan lucu tapi sekaligus juga mengenaskan karena sejatinya kita ada di tengah-tengah kekonyolan seperti dalam naskah drama tersebut. Inilah barangkali sebuah dunia yang tak bisa dibedakan antara realita dan panggung komedi. Sebuah dunia yang menipiskan batas antara kengerian dan kelucuan. Sebuah realita yang melampaui realita itu sendiri. Intertekstualitas dalam Menyidangkan Susila Julia Kristeva, psikoanalis posfreudian, pernah mengemukakan mengenai intertekstualitas sebagai sebuah cara pembacaan. Dalam intertekstualitas, sebuah teks tak pernah memiliki arti yang terlepas dari teks lain. Suatu teks bisa memiliki begitu banyak kemungkinan makna dan berjalin kelindan dengan teks-teks lain di luar dirinya. Intertekstualitas ini ada dalam naskah drama ’Sidang Susila’. Penggambaran karakter para tokoh misalnya, jika anda jeli maka anda akan melihat bahwa teks pada masing-masing tokoh merujuk pada ’teks’ yang menggambarkan tokoh-tokoh lain di realita. Namun Ayu cukup jeli menempatkan sebuah penggambaran sehingga teks yang ada dalam naskahnya tak secara nyata menunjuk seseorang melainkan hanya menempatkannya sebagai sebuah kemungkinan untuk merujuk pada seseorang. Demikian pula dengan berbagai kejadian yang ada dalam narasi, Ayu banyak mengajak pembacanya untuk melihat bahwa kejadian-kejadian banyolan dalam narasi drama itu mungkin secara mengenaskan telah terjadi juga di realita. Pada bagian lampiran terdapat draft RUU Pornografi dan Pornoaksi yang teksnya dibaca ulang oleh Ayu. Ada berbagai selipan komentar di sela-sela teks RUU asli. Di sini kembali kita bisa melihat apa itu intertekstualitas. Berbagai pasal, karena ’permainan kata’ menjadi absurd dan potensial menjadi pasal karet karena maknanya bisa dirujukkan ke berbagai kepentingan. Setelah lampiran yang berisi draft RUU Pornografi dan Pornoaksi, masih ada lampiran lain lagi. Lampiran yang diberi judul ”Nota Ketidaksepahaman” terhadap RUU Pornografi dan Pornoaksi ini, berisikan esei-esei Ayu yang pernah dimuat di media cetak. Esei-esei itu berjudul: ’Berbahasa Indonesiakah RUU Anti Pornografi?’, ’Kera Porno’, ’Pusar dan Rokok’, ’Pak Marta’, ’Pawai’, ’Semboyan 35’ dan ’Pornografi Niat Luhur’. Semua esei itu berisi cermatan dan analisa Ayu seputar fenomena RUU Pornografi dan Pornoaksi. Mencermati struktur buku ’Sidang Susila’, agaknya Ayu berniat mengajak kita merenungkan secara serius apa yang tengah terjadi di masyarakat. Dan barangkali jika kita mau membaca secara intertekstualitas, barangkali persoalannya bukan sekedar disahkan atau tidaknya RUU Pornografi dan Pornoaksi. Ada persoalan lain yang lebih serius yang terjadi di masyarakat dengan semboyan ’Bhinneka Tunggal Ika’ ini. Membaca Perbedaan Meski tema yang diangkat adalah RUU Pornografi dan Pornoaksi, namun momentum keluarnya buku ini terasa tepat karena pada intinya buku ini mengangkat masalah penghargaan terhadap perbedaan. Barangkali saat ini kita perlu bertanya pada diri sendiri: ”Adakah sebuah ruang dalam masyarakat kita, di mana satu orang dengan yang lain tahu sama tahu mereka berbeda dan bertolak belakang namun tetap bisa merasa sebagai sesama warga?”. Ini adalah pertanyaan serius bagi bangsa ini. Pertanyaan ini adalah juga sebuah pembacaan-ulang terhadap apa yang saat ini berlangsung di masyarakat kita. Pembacaan-ulang yang akan memberi kemungkinan pada hidupnya perbedaan atau yang-lain (liyan) di setiap ruang kehidupan. Pembacaan-ulang yang akan selalu memperhitungkan adanya intertekstualitas. Bahwa sebuah teks tak akan bisa menjadi kebenaran tunggal karena maknanya mesti bertaut-kelindan dengan teks-teks yang lain dari teks tersebut. Sekali lagi perlu saya tekankan, ketimbang sebagai perlawanan, buku ini lebih merupakan sebuah ’pembacaan-ulang’ atas apa yang barangkali perlu secara bijak kita sikapi, yaitu Perbedaan. Meski Ayu berbicara sebagai perempuan, namun naskah ini lebih merupakan renungan bagaimana menyikapi perbedaan, yang bisa apapun termasuk perempuan. Buku ini dapat menjadi sebuah bacaan menarik bagi mereka yang memiliki concern pada bagaimana perbedaan mendapat tempat di negeri yang bhinneka ini. Bagi anda yang berminat mendiskusikan esei ini, kami mengundang anda untuk bergabung dalam diskusi di milis Psikologi Transformatif. Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di Indonesia. Total member telah melebihi 2200, sehingga wacana-wacana yang didiskusikan di milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi ”Di mana ada manusia, di situ psikologi bisa diterapkan” di sinilah jargon itu tak sekedar jargon melainkan menemukan konteksnya. Ada berbagai sudut pandang dalam membahas manusia, bahkan yang tak diajarkan di Fakultas Psikologi Indonesia. Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual menuju ke sifat yang kontekstual. Di milis ini anda diajak untuk mengalami psikologi. Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Mang Ucup, Goenardjoadi Goenawan, Prastowo, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia “Lia” Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Lulu Syahputri, Lan Fang, Yunis Kartika, Ratih Ibrahim, Nuruddin Asyhadie, Arif Nurcahyo, Sinaga Harez Posma dan masih banyak lagi. Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik: www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif Perhatian: Tidak ada moderator dalam milis ini sehingga upaya untuk masuk atau keluar dari milis ini mutlak tanggung jawab anda sendiri. SEKILAS TENTANG AUDIFAX Audifax adalah salah satu pendiri sekaligus owner milis Psikologi Transformatif. Milis ini adalah milis psikologi dengan jumlah member terbesar di Indonesia. Saat ini ia bekerja sebagai Research Director di SMART – Center for Human Re-Search & Psychological Development yang beralamat di: Jl. Taman Gapura G-20 Kompleks G-Walk Citraland Surabaya. Telp (031) 7410121. e-mail: This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it Beberapa karya tulis telah ia hasilkan. Di antaranya adalah empat buku: Mite Harry Potter (2005, Jalasutra), Imagining Lara Croft (2006, Jalasutra), Semiotika Tuhan (2007, Pinus) dan bersama Leonardo Rimba menulis Psikologi Tarot (2008, Pinus). Ia juga merupakan anggota Forum Studi Kebudayaan ITB (FSK-ITB). Beberapa eseinya dimuat dalam sejumlah antologi yang diterbitkan FSK ITB. Saat ini minatnya lebih terarah untuk mendalami kecerdasan jamak (Multiple Intelligence) dan sisi psikologis berbagai bentuk ’Kisah’ dalam kaitannya dengan kehidupan psikis manusia.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Prev | Next > |
|---|