| Login |
|---|
| Syndicate |
|---|
Terbaru |
| Filsafat Api Bagi Anak-anak |
|
|
|
| Written by Iggy Budiman | |||||||
| Saturday, 16 August 2008 | |||||||
|
FILSAFAT API BAGI ANAK-ANAK Oleh: Audifax Penulis buku “Imagining Lara Croft” dan “Semiotika Tuhan” Heraklitos, filsuf Yunani kuno, memilih api sebagai simbol substansi kehidupan. Begitu pula dalam mite Prometheus, api digambarkan sebagai yang menghidupkan kehidupan. Karakter api adalah panas dan selalu bergerak bahkan ketika tampak diam. Karakter inilah yang kerap digunakan untuk menyimbolkan sifat dari kehidupan yang sejatinya selalu berada dalam gerakan. Kehangatan juga sering dijadikan indikator adanya kehidupan. Kehangatan hidup itu sendiri bisa merupa hasrat atau cinta. Api bisa menghidupkan dan menghangatkan ketika manusia mampu menjaga dan mengendalikan. Simbolisme api ini digunakan Philip Pullman dalam karyanya yang berjudul “The Firework-Maker’s Daughter”. Pembaca diajak untuk merefleksikan bagaimana api bisa membesar menjadi hasrat yang membakar atau bertransformasi menjadi cinta yang menghidupkan. Jika ditilik segmen pembacanya, maka cerita ini terutama adalah sebuah bacaan menarik bagi anak-anak, walau masih bisa juga dibaca oleh orang dewasa. Manusia dan Api Alkisah, hiduplah Lalchand si pembuat kembang api dan Lila putrinya. Sejak kecil, Lila sudah ingin menjadi pembuat kembang api. Semakin dewasa, keinginan itu semakin kuat. Setelah mempelajari teknik ayahnya dan mengembangkan berbagai teknik baru, Lila bertekad menjadi Pembuat Kembang Api Sejati. Syarat menjadi Pembuat Kembang Api Sejati adalah mampu bertahan hidup setelah menemui Razvani, Sang Angkara Api. Kisah “The Firework-Marker’s Daughter” adalah metafor untuk menggambarkan manusia yang menjalani kehidupannya. Manusia mampu mentransformasi hidupnya menjadi keindahan ketika mampu melampaui kondisi ketika berhadapan dengan hasratnya. Itulah yang mampu dilakukan Lila dan ayahnya ketika di bawah ancaman kematian mereka berjuang membuat kembang api yang lebih indah dari milik Dr. Puffenflasch, Signor Scorcini dan Kolonel Sam Sparkington. Adegan ketika Lila memilih meneruskan profesi ayahnya sebagai pembuat kembang api, tampak seperti manusia yang mesti menjalani hidup dengan mengulang apa yang sudah pernah ada. Sekilas tak ada yang baru di sini. Hanya, selalu ada yang indah dan terdapat kebaruan terus-menerus ketika manusia menjalani pengulangan dengan rasa cinta. Ketika manusia mentransformasi hasratnya menjadi cinta, maka ia juga mentransformasi hidupnya menjadi karya seni. Karya-karya seni klasik memiliki keindahan melampaui ruang dan waku pembuatannya. Ini karena karya itu selalu bisa membawakan dirinya dalam kebaruan di ruang dan waktu manapun. Hidup yang dijalani dengan cinta ibarat karya seni yang indah. Keindahan dari hidup semacam itu melampaui kematian karena akan selalu dikenang sebagai inspirasi yang menumbuhkan kehidupan selanjutnya. Filsafat bagi Anak Kisah “The Firework-Marker’s Daughter” sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ajaran filosofi hidup bagi anak-anak. Pullman mampu mengemas filsafat rumit ke dalam kisah untuk anak-anak. Jika dicermati, buku ini sejatinya bertutur tentang cinta dalam arti luas dan filosofis. Api digunakan sebagai lambang bagaimana cinta menghidupkan kehidupan. Pesan kisah ini mengingatkan saya pada ucapan Achilles dalam Iliad. Achilles berkata, kematian manusia adalah sesuatu yang membuat iri para tuhan. Tak seperti tuhan-tuhan yang imortal, manusia yang dapat mati memiliki waktu untuk dicintai lebih dari waktu kapanpun yang pernah ada di dunia. Dan setiap manusia, tak akan bisa kembali ke waktu tersebut. Pullman juga mengusung filosofi Timur yang bertutur mengenai ‘Maya’. Dalam filsafat Timur, realita adalah maya (ilusi). Pada filsafat Barat, pemikiran realitas sebagai ilusi dibahas oleh David Hume. Menurut Hume, realita yang kita sadari bukanlah realita sebenarnya melainkan tak lebih dari olahan persepsi. Dalam “The Firework-Marker’s Daughter” pemikiran ini diusung dalam adegan ketika Lila mencapai jantung api. Muatan filosofis dalam kisah sederhana yang menarik ini, menunjukkan kualitas Pullman. Tak salah jika buku ini mendapat penghargaan Gold Medal Smarties Prize. Salah satu ciri penulis berkualitas tampak pada kemampuannya mengemas pemikiran filosofis ke dalam bahasa cerita yang ringan dan komunikatif. Pembaca dibuat tak menyadari bahwa dirinya tengah menyerap sebuah filosofi kehidupan yang begitu dalam. Philip Pullman adalah penulis yang tahu bagaimana menghidupkan api (cinta) melalui kisah yang ditulisnya.
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Prev | Next > |
|---|
| User yang online |
|---|
| No Users Online |
| Yang Berulang tahun |
|---|
|