| Login |
|---|
| Syndicate |
|---|
Terbaru |
| YHWH dan Differance |
|
|
|
| Written by Iggy Budiman | |||||||
| Monday, 18 August 2008 | |||||||
|
YHWH dan Différance Oleh: Audifax Penulis buku “Mite Harry Potter” (2005), “Imagining Lara Croft” (2006) dan “Semiotika Tuhan” (2007) Kisah Menara Babel adalah salah satu kisah mitologis yang terkenal. Kisah ini bahkan menjadi salah satu kisah dalam Alkitab. Kisah tentang ambisi manusia menyatu dalam satu ‘rumah’ yang sama. Alih-alih ambisi ini berhasil, YHWH justru turun ke bumi dan menghancurkan rencana itu dengan cara membuat manusia-manusia yang tengah berkumpul membangun menara itu menjadi tak paham bahasa mereka satu sama lain. Totalitas punah oleh kehadiran YANG-LAIN atau LIYAN yang tak terantisipasi. Manusia terserak ke berbagai penjuru. Kehancuran Menara Babel barangkali hanya mite dan tak ada dalam sejarah. Namun, pesan dari petafor kehancuran itu terasa begitu kuat. Kita tak mungkin membangun suatu totalitas utuh selain mengakui perbedaan dan hadirnya Liyan di sela-sela keberbedaan itu. Melalui metafor inilah kita bisa memahami lebih jauh dekonstruksi dan transformasi. Dekonstruksi selalu membongkar, menggeledah dan mempreteli apapun yang mencoba mengutuhkan diri menjadi pusat. Berangkat dari Dekonstruksilah kita bisa memahami Transformasi. Dekonstruksi mengingatkan adanya différance yang selalu lolos dari upaya penaklukan. Kenapa? Karena dalam différance terkandung diferensialitas sekaligus referensialitas. Seperti akhir kisah Menara Babel, yang ada tak hanya perbedaan tapi juga sekaligus keberserakan ke segala penjuru. Itulah gambaran diferensialitas dan referensialitas, bukan hanya perbedaan yang terjadi tapi juga rujukan ke segala arah. Dalam perbedaan-perbedaan yang menyebar dan tak tertampung oleh totalitas itu, tak mungkin ada satu sistem pemikiran yang mencoba menunggalkan manusia dalam satu penjelasan. Jika ada sebuah pemikiran yang berambisi merengkuh segala manusia ke dalam pengetahuan tunggal, seketika akan terbentur berbagai perubahan. Dalam suasana sengkarut ini, ‘pembacaan’ menjadi penting karena pembacaan bisa mengakomodasi pluralitas. Ketika ‘pembacaan’ menjadi penting, maka segalanya mesti bisa ‘dibaca’ atau diperlakukan sebagai teks. Teks adalah universum tanpa batas. Bila buku punya pengantar dan penutup, teks lebih merupa bentangan pemaknaan yang menghampar, bertaut tanpa akhir, jalin-menjalin, melimpah-ruah ke segala penjuru, terus-menerus mengalir tanpa henti. Apa yang tergambar dalam teks adalah gerak tak berarah yang bergulir dari satu medan pemaknaan menuju medan pemaknaan lain. Inilah mengapa segala konstruksi pengutuhan diri entah sebagai ‘penguasa’ atau ‘lawan dari penguasa’ selalu rontok di hadapan dekonstruksi. Misalnya, orang yang mencoba mengutuhkan diri melalui gelar akademis maupun yang mencoba mengutuhkan diri melalui perlawanan terhadap pemilik gelar akademis, dua-duanya sama-sama dengan mudah didekonstruksi. Baik ‘penguasa’ ataupun ‘lawan-penguasa’, ketika keduanya berhadapan diametral, seketika mereka menjadi sesuatu yang tekstual dan bisa dibaca dalam struktur pemahaman yang kultural. Persis ketika ia merupa teks maka ia bisa didekonstruksi. Segala sesuatu sejauh bisa diperlakukan dan dipahami sebagai teks, maka sejauh itu pula ia terbuka untuk dibaca, dibongkar, dan ditafsirkan ulang secara tak berhingga. Memahami Pluralitas, Liyan dan Teks Dalam mite Menara Babel, YHWH adalah LIYAN yang lolos dari pelafalan verbal namun tertangkap dalam pembacaan teks. Seperti huruf ‘a’ dalam différance yang dalam lafal Perancis tak tercandra ujaran karena baik ‘difference’ maupun ‘différance’ sama-sama berbunyi “diffrong”, YHWH juga tak bisa dilafalkan karena terdiri dari empat huruf mati (tetragrammaton). Tapi, sama dengan ‘différance’, YHWH hadir dalam tulisan, sehingga ia hadir (hanya) dalam pembacaan. Tepatnya, ‘différance’ dan ‘YHWH’, keduanya hadir sebagai Liyan yang tak tercandra oleh pelafalan namun hadir dalam tulisan. Di sinilah kita bisa menengok kembali apa yang dikatakan Hélène Cixous. Menurutnya, dekonstruksi derridean akan menjadi peringatan etiko-politis terbesar dari masa kita. “Peringatan”, sebab kita perlu terhindar dari keyakinan yang jumawa akan kemampuan kita mengendalikan bahasa. “Etik”, karena menyangkut bagaimana ‘keyakinan’ akan selalu berhubungan dengan Liyan. “Politik”, karena dekonstruksi adalah keadilan bagi Yang-Lain dan Yang-Berbeda. Dalam ‘kelainan’ dan ‘keberbedaan’, mereka harus tetap dicatat dan memperoleh tempat. Jadi, ketika dalam sebuah ruang yang plural kita hendak bicara kesatian, maka apa yang satu itu pun tak boleh menjadi penyamaan yang menyingkirkan keberbedaan. Orang boleh berbeda satu sama lain dan tahu sama tahu akan perbedaan itu, namun tak boleh kehilangan tempatnya sebagai warga dalam ruang itu. Yang-Lain dan Yang-Berbeda adalah Liyan yang harus tetap dicatat dan memperoleh tempat. Inilah filosofi yang (juga) ada pada ruang bernama ‘milis Psikologi Transformatif’. Ruang ini memberi tempat pada keberbedaan, pada Liyan yang tak terpahami namun hadir dalam ‘tulisan’. Dekonstruksi adalah omong kosong besar jika orang masih bicara pusat yang menstabilkan, menempatkan diri sebagai penguasa yang petentang-petenteng menghukum atau menyuruh resign yang tak mau searah dengannya. Dekonstruksi selalu beriring dengan transformasi. Sebuah perubahan yang bergerak dan mengakomodasi diferensialitas dan referensialitas. Di sinilah kita bisa bicara pluralitas bukan sebagai sekedar ‘karnaval’ melainkan dalam esensi hadirnya keberbedaan sebagai warga
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| Next > |
|---|
| User yang online |
|---|
| No Users Online |
| Yang Berulang tahun |
|---|
|